Bawang Putih, Bawang Merah, dan Bawang Bombay… (Episode 3)

Setelah berhasil membelah biji jengkol emas tersebut, alangkah terkejutnya Stepen melihat apa yang ada di dalam biji jengkol emas tersebut. Ia mengucek-ucek matanya, seakan tidak percaya apa yang ada di dalam biji jengkol tersebut. Empat orang bayi perempuan menangis dan mengerang-erang di dalam biji jengkol emas tersebut. Stepen pun panik melihat  keempat bayi tersebut. Ia merenung dan berkaca.. Tiba-tiba, muncul Ripang (Siapa ripang? Baca kembali episode satu) dari balik cermin.

‘Stepen, pria yang jujur, baik hati, tidak sombong, namun ganteng dan jenius, aku telah memperhatikan dirimu selama ini.. Kamu anak yang jujur, baik hati, tidak sombong, namun ganteng dan jenius. Kamu juga selalu rukun dengan istrimu, Helen, tidak pernah bertengkar, tidak pernah berkelahi, dan tidak pernah menikah.. (Iy, gw ngaku, ini gw copy-paste dari episode sau, abis males nulis ulang) Sayang, kamu belum dikaruniai seorang anak.. Untuk itu, aku akan mengabulkan doamu dan memberikan kamu anak. Rawatlah mereka seperti kamu merawat biji jengkol emas itu.. Tapi ingat, ketika mereka sudah berumur 17thn, kamu harus mengembalikan mereka ke saya untuk saya jadikan dayang-dayang saya…’

Stepen yang sangat bingung pun seketika mengiyakan sang Ripang dan Ripang pun kembali ke balik cermin. Stepen seketika langsung berbalik ke arah biji jengkol emas dan keempat bayi perempuan tersebut. Ia mengeluarkan keempat bayi tersebut dari biji jengkol emas, lalu membawa potongan-potongan biji jengkol emas tersebut ke tukang emas. Mengingat saat ketika cerita ini dirilis, krisis melanda dunia dan Indonesia (bahkan 1 dolar bisa mencapai 12 ribu rupiah), harga emas pun menjadi sangat tinggi. Stepen menjual emas tersebut ke tukang emas dan mendapat banyak uang. Ia pun hidup bahagia dengan istrinya sampai sepanjang segala abad. Uits, tapi cerita ini belum berakhir sampai di sini.. Lalu bagaimana dengan keempat bayi perempuan tersebut?

Seusai menjual biji jengkol emas tersebut, ia kembali ke ketiga bayi tersebut. Ia memutuskan bahwa keempat bayi tersebut harus diberi nama. Bayi pertama diberi nama Bawang Putih karena wajahnya yang mirip dengan Jessica Alba. Bayi kedua diberi nama Bawang Merah karena wajahnya yang mirip Megan Fox. Bayi ketiga diberi nama Bawang Bombay supaya matching dengan kedua bayi sebelumnya. Bayi keempat tidak diberi nama dan dibuang ke dalam jamban karena wajahnya mirip Della Patricia Ginting (Hehehehe, piss ya, Del, cuma bercanda).. Ia merawat ketiga bayi tersebut dengan uang hasil penjualan emas tersebut, namun masih sempat menyisakan uang tersebut setiap bulannya buat beli Gundam..

Tak terasa, dengan hanya melakukan scroll ke bawah, telah lewat 17tahun dari saat Stepen menenukam keempat bayi tersebut.  Ketiga bayi tersebut telah tumbuh menjadi gadis-gadis yang cantik dan awal dari cerita panjang ini akan segera dimulai.  Sayangnya, cerita ini harus diputus di sini karena sekarang sudah jam 2 malam. Jangan lupa saksikan terus BPBMBB. See you at next episode..

Kecelakaan Naas di Lab Aerodinamika ITB

Stepen News Center, 2008 – Hari jumat lalu, tanggal 21 November 2008, terjadi kebocoran tangki gas di labolatorium aerogasdinamika, Institut Teknologi Bandung. Musibah ini meenelan korban 3 orang mahasiswa, salah satu di antaranya adalah mahasiswa berprestasi ITB, dan mengakibatkan tidak dapat beroperasinya terowongan angin satu-satunya milik ITB.

Peristiwa naas ini terjadi ketika praktikum pertama lapisan batas dilakukan oleh ketiga mahasiswa peserta kuliah tersebut, yakni Stepen, Eling, dan Hicha. Seluruh proses praktikum berjalan dengan lancar hingga pada sekitar pukul 13.00 WIB waktu setempat. Sekitar jam tersebut (belum diketahui dengan pasti waktu kejadian), terjadi keanehan pada mesin terowongan angin. Tiba-tiba saja, terowongan angin ITB yang sudah berumur 30tahun tersebut kehilangan RPM mesinnya, padahal setting power mesin tidak dikurangi. Ketiga mahasiswa tersebut sama sekali tidak menduga bahwa terjadi kebocoran tangki gas pada lab aerogasdinamika tersebut. Akibat kebocoran tersebut, udara di laboratorium aerogasdinamika tercemar oleh unsur berbahaya dengan rumus kimia B4U. Karena prosedur praktikum menuntut ventilasi lab untuk ditutup selama proses praktiikum berlangsung, unsur berbahaya KB4U ini tidak dapat keluar dan terperangkap di ruangan laboratorium. Ketiga mahasiswa tersebut seketika langsung kehilangan kesadaran 15menit setelah kebocoran tangki terjadi. Untunglah, sekitar 12jam kemudian, seorang mahasiswa menemukan mereka dan segera melakukan tindakan penyelamatan.

Ketiga korban tersebut segera dilarikan ke RS borromeus dan dengan penanganan yang tepat, nyawa mereka dapat diselamatkan. Akan tetapi, dokter yang menangani mereka mengatakan bahwa gas B4U yang mereka hirup sudah terlalu pekat sehingga ada kemungkinan terjadi kerusakan pada otak ketiga mahasiswa tersebut. Kerusakan otak tersebut memang belum dapat dipastikan, namun bisa dikenali dengan tanda-tanda seperti tingkah laku yang autis dan suka usil, tingkah laku yang suka bingung sendiri, dan perilaku mesum yang berlebihan.

Hingga berita ini diluncurkan, belum dapat dipastikan penyebab sesungguhnya. Tim penyelidik ITB menduga bahwa gas tersebut berasal dari tangki ‘Usus Besar’ milik Elingselasri. Hipotesa ini diperkuat dengan ditemukannya bercak-bercak cairan berwarna coklat muda di celana Eling. Hingga kini penyelidik masih menduga-duga, ‘kira-kira makan apa Eling semalem sampe tangki gasnya bocor dan mengandung gas B4U’. Tim penyelidik berhasil mengamankan katup yang bocor tersebut, namun katup tersebut dapat kembali bocor seewaktu-waktu tanpa pengumuman terlebih dahulu. Stepen, setelah mendapatkan perawatan dan siuman, juga bersaksi bahwa katup tangki ‘Usus Besar’ milik Elingselasri sempat bocor sedikit ketika kumpul perancangan 3minggu yang lalu, namun saat itu kebocoran hanya terjadi sesaat. Ia tidak menyangka bahwa kebocoran akan semakin parah dan berakibat fatal(red).

Bawang Putih, Bawang Merah, dan Bawang Bombay… (Episode 2)

Sesampainya di rumah, Stepen langsung menyimpan cangcut pemberian ripang di dalam brankas, sementara biji jengkol yang ia terima segera ia taman di halaman bekllakang rumahnya. Ia sudah bertekad untuk memelihara biji jengkol tersebut seperti memelihara anaknya sendiri. Setiap hari, biji jengkol tersebut diberi sinar matahari yang cukup, diberi air hujan yang cukup, dan dipupuki dengan pipis Stepen yang juga mujarab sebagai alat pelet cewe (bagi yang maw pesen pipis gw buat melet gw, lgsg aj e-mail gw. Ga usa takut, kerahasiaan identitas anda semua gw jamin). Akhirnya, jerih payah Stepen pun membuahkan hasil, biji jengkol emas tersebut telah matang dan siap untuk dipanen.

Keterangan singkat:

Mungkin kalian semua bingung, apakah jengkol punya biji dan apakah jengkol bisa dipanen. Tenang, pada paragraf ini, akan dijelaskan mengenai kedua al tersebut.

Pertama, apakah jengkol mempunyai biji? Ya, jengkol memang memiliki biji. Jengkol yang memiliki nama ilmiah Jengkolus Jengkalis merupakan salah satu contoh tanaman monoque. Tanaman monoque memiliki struktur kulit yang berfungsi menahan tegangan geser dan struktur rangka yang berfungsi menahan tegangan tarik atau tekan (keterangan lebih lanjut mengenai monoque dapat dibaca pada page Lightweight Structure). Tanaman monoque berkembang biak dengan menggunakan biji. Memang tidak banya orang yang mengetahui bahwa jengkol memiliki biji. Hal ini dikarenakan biji jengkol memiliki sifat kasat mata. Biji ini hanya dapat dilihat oleh manusia tampan yang beriman tinggi (dalam cerita ini, ya Stepenlah). Fakta dari National Geographies menunjukkan bahwa hanya 2% dari seluruh penduduk dunia ini yang dapat melihat biji jengkol. Jadi, apakah anda manusia tampan beriman tinggi? Jika tidak, maka sangatlah wajar jika anda tidak mengetahui bahwa jengkol memiliki biji.

Kedua, apakah jengkol bisa dipanen dan bagaimana caranya memanen jengkol? Bisa, jengkol bisa dipanen. Setelah ditanam selama kurang lebih 10 tahun dibawah sinar matahari yang terus menerus, biji jengkol akan membesar menjadi seukuran semangka dan siap dipanen. Cara memanen jengkol sangatlah mudah. Pertama-tama, keluarkan jengkol dari dalam tanah. Kedua, bersihkan jengkol dari tanah-tanah. Ketiga, bilas dengan alkohol 80% untuk memastikan jengkol telah steril dari kuman-kuman. Keempat, rebus jengkol di dalam air mendidih selama kurang lebih 5menit untuk membunuh virus2 yang ada. Keenam, letakkan jengkol yang telah disterilkan di atas meja dan berteriaklah ‘PANEN!!!’ dengan kencang. Langkah terakhir, kupas kulit jengkol tersebut, makan daging buahnya, dan ambil bijinya, panen pun selesai. Perlu diingat bahwa langkah keenam sebaiknya dilakukan oleh manusia tampan berimn tinggi, sementara langkah kelima sebaiknya tidak dilakukan di areal sekitar tempat ibadah ataudi sekitar rumah sakit jiwa, karena dikhawatirkan orang yang tidak mengetahui cara memanen jengkol akan menganggap anda orang gila. Cara lebih jelas mengenai cara memanen jengkol dapat dibaca di www.truefact.org/jengkol. Trimakasih…

Ok, back to story…

Saat akan memanen jengkol tersebut, tiba-tiba dari dalam biji jengkol emas tersebut terdengar suara tangisan bayi. Kontan saja Stepen langsung panik karena lupa mematikan kompor (iy, gw tau bagian ini garing). Stepen pun langsung mengambil biji jengkol tersebut dari halaman belakang dan membelahnya menjadi 2. Alangkah terkejutnya Stepen ketika melihat apa yang ada di dalam biji jengkol tersebut. Akan tetapi, apa isi jengkol tersebut tidak akan diceritakan sekarang. Isi jengkol tersebut baru akan diceritakan di episode 3, jadi jangan lewatkan episode 3 serial BPBMBB…

Bawang Putih, Bawang Merah, dan Bawang Bombay… (Episode 1)

Alkisah pada jaman dahulu kala, dimana Bumi masih dihuni oleh para manusia, hiduplah sepasang suami istri yang sangat bahagia. Mereka adalah Stepen dan Helen. Mereka hidup bahagia sekali, tidak pernah bertengkar, tidak pernah berkelahi, dan tidak pernah menikah (hiks).. Sayangnya, walaupun mereka hidup bahagia, mereka tidak dikarunia seorangpun anak (ya iylah, ga nikah, gmn maw punya anak?). Bahkan sampai usia mereka sudah renta, Tuhan yang mahakuasa belum juga memberi mereka keturunan. Walaupun demikian, mereka tetap tabah dan menjalani hidupnya (masing2)..

Suatu ketika, di saat sang sinar matahari belum bisa menyinari seluruh permukaan Bumi, Stepen pergi ke empang untuk mencuci pakaian dalamnya.. Saat sedang asik mencuci, tiba-tiba ia mendengar suara beberapa wanita yang sedang tertawa di arah hilir empang (angep aj empang ada hilirnya). Terbesit rasa ingin tahu dicampur dengan tempe goreng dan lalapan ala sunda, Stepen bergegas berenang ke arah suara tersebut, dan didapatinya sekelompok bidadari sedang mandi di sana. Stepen pun diam-diam berbalik arah dan pergi meninggalkan para bidadari tersebut, karena mengintip itu aadalah dosa, dan Stepen adalah anak yang baik hati, jadi tidak boleh mengintip….

Seusai mencuci pakaian dalamnya, iapun bergegas meninggalkan empang. Tak sengaja, ia menjatuhkan salah satu pakaian dalamnya ke sungai. Tiba-tiba, sungaipun bergetar, Bumi goncang gancing, angin bertiup kencang, daun-daun berguguran, dan matahari bersinar cerah. Dari dalam sungai, tiba-tiba munculah ripang alias peri empang. Peri itu memegang 2 buah celana dalam, satu merek GTman dan satu merek Crocodile.

‘Apakah cangcut merek GTman ini yang tadi kamu jatuhkan?’

‘Bukan, guru..’

‘Saya bukan gurumu, gurumu itu mah sejenis ikan’

‘Itu mah gurame’

‘Gurame itu mah tangga nada’

‘Itu mah doremi’

‘Doremi itu mah yang sering ditonton Hicha’

‘Itu ma Dorama’

‘Waw, anda sungguh sangat cerdas, saya yakin, pasti anda adalah seorang mahasiswa yang berprestasi, ya kan?’

‘Bukan, guru, saya hanyalah manusia biasa yang selalu berusaha sebaik-baiknya, rajin belajar, suka menabung, dan suka donlod bokep’

‘Saya bukan gurumu… Sudah cerdas, kamu juga rendah hati.. Baiklah, karena kamu sangat rendah hati, bawalah kedua cangcut yang bermerek ini. Selain itu, ambil juga bijijengkol raksasa ini. Itu hadiah untuk kejujuranmu.’

‘Oh, terima kasih, guru, saya akan merawat cangcuts dan biji jengkol ini seperti saya merawat darah daging saya sendiri..

‘Eh, bacul, panggil gw guru sekali lagi, gw tarik lagi nih hadiahnya…’

‘Maap guru, ga sengaja, reflek euy’

‘Yawda, minggat sana…’

Setelah mendapat hadiah berupa 2 celana dalam yang bermerek dan biji jengkol emas dari Ripang, Stepen pun bergegas pulang untuk menjemur kolornya. Ia tidak tahu, bahwa biji jengkol emas yang ia terima adalah sesuatu yang akan mengubah hidupnya dan membuat cerita ini menjadi sangat panjang….